Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, mengumumkan bahwa ujian nasional akan dihapus mulai tahun ajaran 2021/2022. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari reformasi sistem pendidikan di Indonesia. “Kami ingin fokus pada peningkatan kualitas pendidikan daripada hanya mengejar angka,” kata Nadiem dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (15/02).

Kebijakan penghapusan ujian nasional ini mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk para guru dan orang tua siswa. Mereka menyambut baik langkah pemerintah untuk merombak sistem evaluasi pendidikan yang dinilai sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. “Saya setuju dengan keputusan ini. Ujian nasional bukanlah satu-satunya cara untuk mengukur kemampuan siswa,” ujar seorang guru di Surabaya.

Penghapusan ujian nasional juga diharapkan dapat mengurangi beban siswa dalam menghadapi ujian akhir. Hal ini dianggap dapat meningkatkan kesejahteraan mental dan emosional anak-anak, yang seringkali stres dan tertekan menjelang ujian. “Anak-anak tidak perlu lagi merasa tertekan dengan ujian nasional. Mereka dapat belajar dengan lebih santai dan fokus pada pemahaman materi,” kata seorang orang tua di Yogyakarta.

Meskipun demikian, beberapa pihak juga menyoroti potensi dampak negatif dari penghapusan ujian nasional ini. Mereka khawatir tanpa adanya evaluasi yang standar, mutu pendidikan di Indonesia akan semakin menurun. “Tetap diperlukan sistem evaluasi yang objektif untuk memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga,” ujar seorang ahli pendidikan dari Universitas Indonesia.

Nadiem Makarim menegaskan bahwa pemerintah akan menggantikan ujian nasional dengan sistem evaluasi yang lebih modern dan komprehensif. “Kami sedang merancang sebuah sistem evaluasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pendidikan di era digital ini. Kami akan melibatkan berbagai pihak dalam proses perumusan kebijakan ini,” kata Nadiem.

Penggantian ujian nasional dengan sistem evaluasi baru tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kemampuan dan potensi siswa. Hal ini dianggap dapat memberikan motivasi yang lebih besar bagi siswa untuk belajar dengan lebih baik. “Saya berharap sistem evaluasi baru ini dapat mendorong siswa untuk berkembang secara holistik, bukan hanya sekadar menghafal untuk ujian,” ujar seorang orang tua di Jakarta.

Pemerintah juga berencana untuk memberikan pelatihan kepada guru dan sekolah dalam mengimplementasikan sistem evaluasi baru ini. Hal ini dianggap penting agar pelaksanaan evaluasi dapat berjalan dengan baik dan adil bagi semua pihak. “Kami akan memberikan dukungan penuh kepada guru dan sekolah dalam menghadapi perubahan ini,” kata Nadiem.

Keputusan penghapusan ujian nasional ini merupakan langkah awal dari serangkaian reformasi dalam bidang pendidikan yang akan dilakukan oleh pemerintah. Nadiem berharap reformasi ini dapat membawa perubahan positif dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. “Kami akan terus berupaya untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik dan merata bagi semua anak-anak Indonesia,” kata Nadiem.