Pertamina Hulu Rokan (PHR) menjaga keseimbangan alam dengan melakukan bioremediasi di hamparan pohon sawit di bawah langit Riau yang luas. Program ini merupakan upaya untuk mengembalikan daya dukung tanah yang terpapar minyak bumi di masa lalu.

Ovulandra Wisnu, VP Remediation and Asset Retirement PHR, menyatakan bahwa tanah memiliki sejarah panjang dalam mendukung kebutuhan energi bangsa. PHR menerima penugasan dari pemerintah untuk melanjutkan pemulihan tanah terpapar minyak bumi.

Dengan bimbingan teknis dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), PHR menerapkan teknologi bioremediasi onsite menggunakan mikroorganisme alami. Pilot penggunaan teknologi ini telah terbukti berhasil di tahun 2024.

Proses pemulihan tanah melibatkan tahapan ilmiah yang ketat, seperti pengumpulan data awal, delineasi, dan penyusunan RPFLH. Keberhasilan tidak hanya diukur dari turunnya kadar senyawa hidrokarbon, tetapi juga dari kembalinya kemampuan tanah mendukung kehidupan.

Di Kabupaten Siak, petani sawit, Roy Safroi, menyaksikan langsung perubahan lahan menjadi lebih produktif akibat teknologi bioremediasi. Roy menyatakan rasa terima kasihnya terhadap PHR atas upaya menjaga dan memperbaiki lingkungan.

Program pemulihan tanah ini merupakan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan lembaga pemerintah, otoritas energi, dan aparat penegak hukum. PHR bekerja sama dengan Kejaksaan Agung RI dalam setiap tahapan pelaksanaan program ini.

PHR tidak hanya menjaga ekosistem di wilayah operasinya melalui program bioremediasi, tetapi juga menanam nilai bahwa industri dan alam bisa berjalan berdampingan. Masyarakat mulai memanfaatkan kembali lahannya untuk pertanian setelah proses pemulihan.

Pertamina Hulu Rokan terus merawat tanah di tengah operasional migas yang berjalan. Program bioremediasi bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju keseimbangan lingkungan. Roy Safroi menjadi saksi bahwa ketika alam diberdayakan kembali, kehidupan akan selalu menemukan jalannya.