Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Waka Polda) Riau Brigjen Pol. Dr. Hengki Haryadi, S.I.K., M.H., memimpin langsung pers rilis pengungkapan kasus konflik lahan yang berujung pada tindak kekerasan brutal hingga menewaskan satu orang. Konferensi pers tersebut dilaksanakan di Lobi Mapolres Rokan Hulu pada Selasa, 10 Februari 2026.

Dalam konferensi pers tersebut, Brigjen Pol. Dr. Hengki Haryadi, S.I.K., M.H., menjelaskan bahwa kasus konflik lahan yang terjadi telah berdampak sangat tragis dengan adanya korban jiwa. Kejadian ini menjadi perhatian serius bagi pihak kepolisian dalam menangani masalah konflik lahan di wilayah Riau.

Identitas korban yang tewas dalam kasus ini belum diungkapkan oleh pihak kepolisian. Namun, Brigjen Pol. Dr. Hengki Haryadi, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap motif di balik tindak kekerasan tersebut.

Kasus konflik lahan yang berujung pada tindak kekerasan brutal ini terjadi di wilayah Rokan Hulu. Lokasi pers rilis pengungkapan kasus tersebut juga berlangsung di Mapolres Rokan Hulu sebagai upaya transparansi pihak kepolisian dalam menangani kasus ini.

Pihak kepolisian Riau telah menetapkan beberapa orang sebagai tersangka dalam kasus ini. Namun, Brigjen Pol. Dr. Hengki Haryadi, S.I.K., M.H., belum merinci identitas maupun jumlah tersangka yang telah ditangkap terkait kasus konflik lahan yang berujung pada tindak kekerasan tersebut.

Brigjen Pol. Dr. Hengki Haryadi, S.I.K., M.H., juga menambahkan bahwa pihak kepolisian akan terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk mengungkap seluruh fakta yang terkait dengan kasus konflik lahan ini. Upaya penegakan hukum akan dilakukan secara tegas dan adil sesuai dengan hukum yang berlaku.

Pada akhir konferensi pers, Brigjen Pol. Dr. Hengki Haryadi, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa pihak kepolisian akan terus melakukan pengawasan ketat terhadap kasus konflik lahan di wilayah Riau. Masyarakat diimbau untuk tidak menggunakan kekerasan sebagai solusi dalam penyelesaian konflik, namun untuk mengedepankan dialog dan musyawarah guna mencapai perdamaian yang berkelanjutan.