Hari Pers Nasional (HPN) yang diperingati setiap tanggal 9 Februari bukan hanya seremonial tahunan untuk mengenang sejarah, tetapi juga menjadi momentum bagi insan pers untuk mereposisi diri. Saat ini, dunia sedang mengalami era polikrisis, di mana ketegangan geopolitik, fluktuasi ekonomi global, dan disrupsi teknologi terjadi secara bersamaan.

Di tengah pusaran ketidakpastian ini, pers nasional harus menjadi pilar pendukung pembangunan dan benteng kedaulatan informasi. Dunia saat ini dipenuhi dengan rivalitas kekuatan besar yang memicu fragmentasi ekonomi dan politik, dengan Indonesia juga merasakan dampak geopolitik dalam berbagai aspek, mulai dari gangguan rantai pasok hingga serangan siber dan propaganda asing.

Pers diuji dalam menghadapi situasi ini, tidak hanya sebagai pengamat pasif, tetapi juga sebagai instrumen ketahanan nasional. Pers harus hadir sebagai lembaga penjernih informasi yang memisahkan fakta dan manipulasi di ruang publik yang kerap dibanjiri hoaks.

Pembangunan nasional membutuhkan kepercayaan publik, dan pers memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ini melalui edukasi kebijakan, kontrol sosial yang konstruktif, dan pembangunan optimisme di tengah narasi global yang seringkali suram. Pers juga harus berani menyuarakan kepentingan Indonesia di panggung dunia dengan mandiri secara ekonomi dan berdaulat secara teknologi.

Keamanan nasional di masa depan tidak hanya bergantung pada kekuatan militer, tetapi juga pada ketangguhan informasi. Pers yang kredibel merupakan aset strategis negara dalam menghadapi era geopolitik yang tidak menentu. Tanpa pers yang sehat, pembangunan akan kehilangan arah dan masyarakat rentan terombang-ambing oleh kepentingan luar.

Selamat Hari Pers Nasional. Mari jadikan pena dan kamera sebagai senjata untuk menjaga persatuan, mengawal pembangunan, dan memastikan Indonesia tetap tangguh di tengah kegaduhan dunia.