Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuansing terlalu memaksakan diri untuk membuat bangunan Astaka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di bekas bangunan pasar bawah Teluk Kuantan. Rencana pembangunan astaka MTQ ini dibuat untuk ‘adu gengsi’ karena Kuansing akan menjadi tuan rumah MTQ XLIV Tingkat Provinsi Riau Tahun 2026. Bangunan telah di desain dengan arsitektur mewah dan bergaya modern islamic.

Ketua LSM Benang Merah Keadilan, Idris Muhkni, mengatakan bahwa pembangunan tersebut merupakan sebuah pemborosan di tengah masalah tunda bayar dan persoalan lain yang dihadapi oleh Pemkab Kuansing. Idris juga menyampaikan kekhawatirannya bahwa bangunan tersebut akan terbengkalai setelah acara MTQ selesai, mirip dengan nasib bangunan lapangan sepakbola stadion utama saat PON digelar 2012.

Menurut Idris, saat ini keuangan daerah di lingkungan Pemkab Kuansing mengalami masalah yang rumit. Ratusan kepala desa belum menerima hak sepenuhnya dan para ASN belum menerima Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) sejak tahun lalu. Ia menekankan perlunya kajian yang matang dalam perencanaan pembangunan di Kuansing.

Idris menyarankan agar Pemkab Kuansing lebih fokus menstabilkan keuangan daerah dan merasionalisasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Hal ini sebagai langkah antisipasi agar persoalan tunda bayar tidak terulang di tahun-tahun berikutnya. Ia juga meminta Pemkab Kuansing untuk mengurangi kegiatan seremonial yang dapat menghamburkan keuangan daerah.

Sebelumnya, Bupati Kuansing dikritik karena menggunakan anggaran untuk kunjungan yang seharusnya bisa dilakukan oleh beberapa perwakilan. Idris menilai kegiatan seremonial tersebut hanya pemborosan keuangan semata dan Pemerintah seharusnya lebih berhemat mengingat kondisi keuangan saat ini.