Julianti (51) sukses mengelola UMKM dengan produksi Keripik Tempe di Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Usaha tersebut kini menggerakkan usaha bersama yang memberi penghasilan tambahan bagi warga sekitarnya. Julianti mulai merintis usahanya sejak tahun 2016, saat suaminya belum memiliki pekerjaan tetap. Dari dapur rumah, Yanti mencoba berbagai usaha kecil demi menopang kebutuhan keluarga dan pendidikan kedua anaknya.
Usaha pertama yang dijalani adalah kerajinan tangan dan menjual kue berbahan dasar ubi menjadi bolu. Namun, usaha kue ubi hanya bertahan selama satu tahun karena keuntungan terbatas. Yanti tidak patah semangat dan menggerakkan 10 ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya untuk membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE).
Pada tahun 2022, keripik tempe produksinya mulai masuk pasar dengan logo halal dan ijin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Permintaan pasar terus meningkat, bahkan menjelang Lebaran telah membuka sistem pre-order. Yanti bersama kelompoknya telah memproduksi beragam makanan olahan, termasuk keripik tempe, kue kering, kerupuk, rengginang, peyek, bolu, donat, keripik pisang pedas manis, kue semprong, gonggong rebus, dan telur cumi asin.
Desember tahun lalu, kelompok UP2K menerima bantuan alat produksi dari program CSR BRK Syariah senilai Rp42 juta. Bantuan tersebut meningkatkan kapasitas produksi keripik tempe KUBE hingga 2,7 kilogram per hari. Yanti menyatakan bahwa prinsip usahanya adalah membawa orang lain ikut bekerja dan memiliki penghasilan tambahan untuk keluarganya.
Branch Manager BRK Syariah Bintan, Imam Hadi Suryono, menegaskan bahwa pemberian alat bantu produksi untuk UMKM merupakan bagian dari komitmen BRK Syariah dalam memberdayakan UMKM. Program CSR ini berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menjangkau pelaku usaha yang membutuhkan dukungan non finansial dan finansial. Program CSR BRK Syariah bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga instrumen strategis untuk menunjang perekonomian masyarakat.